“Dalam skenario mimpi yang kita tulis, kita adalah pemain, sutradara, sekaligus produser.” (Hlm. 26)
“Terlalu banyak pertimbangan membuat kita sering menunda action.” (Hlm 55)
“Sebenarnya, momentum ini bukan datang begitu saja, melainkan diciptakan.” (Hlm. 66)
“Sebelum memasarkan diri, sebaiknya kita mengukur kekuatan kita yang sesungguhnya.” (Hlm. 117)
“Kita tidak cukup hanya menentukan arah tujuan kita. Sebaiknya kita juga mengenalinya.” (Hlm. 186)
“Memiliki minat justru membuat seseorang lebih sukses dibandingkan hanya memiliki bakat.” (Hlm. 196)
“Sebaiknya, ketika memiliki sebuah bakat dan minat terhadap suatu bidang, kita juga harus mempelajari peluang bisnisnya.” (Hlm. 200)
“Sesuatu yang sulit akan menjadi mudah kalau kita menemukan caranya.” (Hlm. 211)
“Bukanlah suatu kegagalan jika belum terlihat upaya yang sungguh-sungguh.” (Hlm. 225)
“Menyerah bukanlah solusi yang tepat ketika mengalami masalah seberat apapun.” (Hlm. 238)
“Kita hanya punya formula-formula untuk menjemput rezeki. Namun, tetap saja rezeki adalah sebuah misteri.” (Hlm. 252)
Melalui buku inilah, Iwel akan mengajak Anda untuk menemukan inspirasi dan jati diri dengan gaya stand up comedy. Hanya saja, saya masih kurang paham apa kaitan “Mimpi atau Mati” dengan keseluruhan isi bukunya, karena pengulasan tentang “mati” itu terasa belum mendalam. Alangkah baiknya, jika menambah porsi tentang kisah-kisah orang yang takut bermimpi, hingga jiwanya pun terasa sedih ataupun mati. Sehingga pembaca pun harus berpikir dua kali jika tetap kekeuh mengabaikan mimpinya.


